Batita yang agresif, mau jadi apa?

Sore tadi Bhre, anak saya yang berusia 22 bulan sedang asik nonton Upin-Ipin di TV. Sembari nonton TV dia memainkan mobil-mobilannya di lantai. Tak lama berselang kompatriotnya sesama Batita -sebut saja Bro- datang membawa mobil mainannya sendiri. Si Bro ini lebih tua 6 bulan dari Bhre. Otomatis secara fisik dia lebih kuat dan gesit daripada Bhre.

Semua tampak normal saja. Mereka memang kerap bermain bersama. Kadang Bhre yang nyamperin Bro di rumahnya, di lain waktu gantian Bro yang menghampiri Bhre. Hingga di satu momen Bro melemparkan mobil mainannya ke kepala Bhre, tanpa prolog ba bi bu. Tepat mengenai jidat.

Laiknya Batita kebanyakan, sontak Bhre menangis karena kesakitan (atau mungkin malu tidak bisa melawan). Sedangkan si Bro kalem saja melihat korbannya mewek. Dia malah dengan ringannya mengucapkan kata mutiara sebagai epilog: janc** sambil ngeloyor pergi. Saya hanya melongo, bingung mesti bereaksi bagaimana.

***

Cerita di atas bukanlah rekaan. Itu cerita nyata adanya. Ortu si Bro bukannya tidak tahu. Mereka  seringkali mendapati anaknya melakukan aksi serupa kepada siapa saja, bahkan kepada orang dewasa tanpa pandang bulu. Anehnya -setidaknya dalam pandangan saya- si ortu terlihat fine-fine saja. Malah acapkali nyengir dengan wajah sumringah melihat anaknya beraksi. Sepertinya mereka memang bangga anaknya tumbuh jauh melampaui usianya.

Saya juga kerap melihat si ortu menyuruh Bro memaki seseorang. Meski dalam konteks bercanda, tetap saja bagi saya kurang bagus untuk perkembangan jiwa anak. Si Bro ini kecil-kecil kosakata pisuhannya lumayan lengkap lho. Coba sebut makian ala Jawa Timur, apa saja. si Bro akan fasih melafalkannya dengan penjiwaan sempurna bak aktor drama. Klop, sudah agresif secara fisik, brutal secara verbal pula. 

***

Saya jadi berandai-andai, berusaha menempatkan diri pada posisi ortunya si Bro.  Jangan-jangan mereka memang ingin memupuk perangai agresif si anak sebagai bekal menjalani profesinya kelak. Memangnya ada profesi yang membutuhkan watak agresif sebagai kualifikasi utama? Eh jangan salah, ada beberapa. Jom kita tengok.

Alternatif pertama yang bisa saya bayangkan adalah profesi sebagai preman. Ya siapa tahu aja ortu si Bro memang menghendaki anaknya kelak menjadi preman. Daripada pusing-pusing mikir biaya untuk nyekolahin anak sampai kuliah, dan belum tentu bisa segera kerja. Mendingan mengarahkan dia untuk menjadi preman. Modal tampang sangar dan perangai agresif saja saya kira cukup. Dan jika kelak bisa menguasai 10 saja lahan parkir, dijamin akan tajir melintir.

Lha iya kan, di jaman yang serba tak pasti begini, investasi uang untuk biaya pendidikan anak itu high risk lho. Jangankan berharap uang segera kembali, tekor yang hampir pasti. Apalagi kalau jurusan yang dipilih bukan jurusan populer, jurusan filsafat misalnya. Setahu saya cuma dua orang dari jurusan filsafat yang mapan, Dian Sastro dan kepala suku Mojok. Nah, daripada berinvestasi gak jelas membiayai anak untuk kuliah, melatihnya untuk mreman bisa menjadi pilihan.

Atau mungkin juga ortu si Bro bercita-cita agar anaknya nanti menjadi atlet MMA. Modal nyali itu pasti. Beserta nilai plus berupa mulut yang fasih menyemburkan kata-kata kotor. Tinggal menambah jam terbang dalam perkelahian. Mungkin bisa diikutkan magang ke kakak-kakak SMA dan STM yang hobi tawuran. Yakin deh, sebelum usia 20 tahun aja sudah akan berasa seperti Connor McGregor. Ya meskipun ujung-ujungnya kalahan dengan muka nyoyor, yang penting bisa tersohor.

Jika 2 alternatif tadi gagal tercapai, masih ada pilihan profesi yang lain. Menjadi anggota Ormas Pembela Apa Aja. Apalagi kalau yang dibela itu agama, kualifikasinya pasti sesuai. Anggotanya mutlak harus agresif dan intimidatif. Meskipun di tahun 2021 ini laskar semacam itu memang sudah dibubarkan. Tapi 10 atau 20 tahun lagi, tepat di usia produktif si Bro, siapa tahu mereka 'dibangkitkan' lagi. Ormas attack dog selalu punya prospek kok dalam politik. Lumayan lho, minimal bisa dapet nasi bungkus gratis.

Lebih dari semua alternatif tersebut, kemungkinan terbaik yang bisa saya angankan adalah menjadi pemain sepak bola. Dimana sikap agresif, bernyali, brutal secara verbal dan kuat secara fisik adalah paket komplit yang sangat dibutuhkan di Liga Indonesia. Urusan skill mah nomer sepuluh atuh.

Ditulis oleh : Mr. Rois / Javanese Teacher

Pernah dimuat di:

https://rembukan.com/balita-yang-agresif-mau-jadi-apa/

Leave a Reply

Your email address will not be published.