Bermain JUMANSI (Juara Permainan Anti Korupsi) secara berkala agar Indonesia tak sampai salah kelola

Disusun oleh:

Ketua panitia
Pengawas
: Dra. Anny Sulistyowati, M.M.
: Bambang Supriyadi, S.Pd., M.Pd.
Kepala Sekolah: Nur Aini H.S., S.Pd.
Tim Guru: Fenty Windyanurkarina, S.Pd. & Rois, S.A.P.

“Jika para koruptor masih bisa hidup mewah bergelimang harta selama maupun sekeluarnya mereka dari penjara, lalu kenapa saya harus berkata tidak pada korupsi?”

Andai muncul pertanyaan seperti itu dari seorang siswa, bagaimana kita para pendidik mesti memberi jawaban yang logis? Jika saya yang harus menjawab, maka jawabannya akan cukup panjang.

Pertanyaan tersebut adalah jenis pertanyaan yang mengandung fallacy atau sesat pikir, bersifat individualis, cenderung egois dan hanya melihat harta sebagai satu-satunya hal penting dalam hidup. Alih-alih memeras energi untuk menjawab pertanyaan tersebut, lebih baik kita meluruskan pola pikirnya. Untuk mengubah pola pikir tersebut diperlukan cara yang sistematis dan disertai contoh nyata.

Pertama, mari kita ambil sebuah contoh. Ketika berbicara mengenai korupsi, ada banyak contoh kasus level negara yang bisa kita jadikan contoh. Yang pertama adalah Indonesia di era 80an hingga akhir 90an, dan yang kedua adalah Venezuela pada masa 10 tahun terakhir. Membicarakan Indonesia di masa kejayaan Orde Baru agak membosankan karena setiap orang telah mafhum bagaimana kanker korupsi tumbuh sangat subur di era tersebut. Maka lebih asyik jika negara lain saja yang kita ghibahkan, Venezuela.

Venezuela hingga tahun 2017 bisa disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja versi Amerika Latin. Sebut saja pendapatan perkapita sebagai tolak ukurnya. Di akhir tahun 2017pendapatan perkapita mereka 684,960.377 USD, bandingkan dengan pendapatan perkapita kita di tahun yang sama yang ‘hanya’ sebesar 3.876,8. USD.

Namun memasuki akhir 2018, negara tersebut mengalami kebangkrutan parah. Mereka mengalami inflasi hingga 1.300.000 %. Bayangkan, harga barang-barang kebutuhan naik 13 ribu kali lipat. Sebagai perbandingan, kita pernah mengalami hiperinflasi pada tahun 1965, itu saja hanya 658%. Dan itu sudah cukup menimbulkan chaos yang berdarah-darah dan berujung pada pergantian kepemimpinan.

Apa penyebab utama kebangkrutan Venezuela tersebut? Jika bisa dirangkum dalam 2 kata, maka itu adalah: salah kelola. Dan salah kelola dalam suatu negara sebesar Venezuela, tak lain dan tak bukan pasti melibatkan korupsi dalam berbagai varian di dalamnya. Salah satu bentuk salah kelola yang paling mencolok adalah adanya ketidakjujuran Pemerintahan Hugo Chavez untuk mengambil hati rakyatnya.

Sebagaimana misalnya Presiden Chavez membiayai kemakmuran rakyatnya dari penjualan minyak secara berlebihan dan dari hutang Luar Negeri. Pada masanya, rakyat Venezuela menikmati akses pendidikan, kesehatan dan berbagai fasilitas lain secara gratis. Mereka juga menikmati harga kebutuhan pokok yang murah meriah. Tentu saja melalui mekanisme subsidi. Dengan begitu tentu rakyat Venezuela menikmati tingkat kemakmuran yang luar biasa. Dan mereka merasa baik-baik saja dengan kurun kekuasaan Presiden Chavez yang relatif lama. Padahal semua itu menyimpan bom waktu, hanya menunggu saat untuk meledak.

Ketika tiba jatuh temponya untuk membayar hutang Luar Negeri tersebut, yang ndilalah berbarengan dengan terjunnya harga minyak dunia, hanya ada satu kata untuk Venezuela: bangkrut. Bom waktu yang lama ditanam telah meledak.

*****

Kita bisa saja bersikap masa bodoh terhadap apa yang terjadi di Venezuela. Namun jika mau sedikit berpikir, kita bisa mengambil pelajaran agar yang terjadi di sana tidak sampai menimpa kita. Bukankah pengalaman (Negara lain) adalah guru terbaik? Salah satunya adalah dengan mengikis habis tindak korupsi dengan segala variannya.

Kabar buruknya, memberantas korupsi bukanlah pekerjaan mudah yang bisa rampung dalam semalam. Andai bisa seperti itu, KPK istirahat saja. Serahkan pekerjaan kepada Bandung Bondowoso yang mampu membangun seribu candi hanya dengan semedi. Atau bisa jadi kepada Sangkuriang putra Dayang Sumbi.

Memberantas korupsi ini proses panjang yang bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan mungkin hingga alih generasi. Mengikis korupsi ada kaitannya dengan mengubah pola pikir, sikap dan perilaku. Dan untuk mengubah pola pikir, sikap dan perilaku tersebut, adakah yang lebih manjur dari pendidikan? *****

Berangkat dari hipotesa tersebut maka jalan terbaik untuk menanamkan sikap dan perilaku anti korupsi adalah melalui pendidikan, dan pendidikan paling ampuh harus dilakukan sejak usia dini. Menurut

hasil penelitian Osbora, White dan Bloom, “perkembangan intelektual manusia pada usia 4 tahun sudah mencapai 50%, usia 8 tahun 80%, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100%.”

Artinya, usia dini 0-8 tahun merupakan masa emas bagi pendidikan anak. Norma dan nilai-nilai apapun yang diajarkan pada periode emas tersebut akan lebih bisa diterima. Dengan begitu akan lebih besar kemungkinannya untuk bisa membentuk karakter anak hingga usia dewasa. Dengan dasar berpikir tersebut maka pendidikan anti korupsi akan lebih mengena jika diajarkan pada anak sejak usia dini. *****

Dalam upaya memberikan pendidikan anti korupsi kepada anak usia dini tersebut, kami tim SD Mafaza Integrated Smart School merancang sebuah media permainan yang kami beri nama JUMANSI, singkatan dari Juara Permainan Anti Korupsi. Permainan ini kami rancang untuk siswa SD kelas 1 hingga kelas 6.

Pada dasarnya permainan ini mirip permainan monopoli, boleh juga disebut mirip game Jumanji karena sama-sama menggunakan dadu. Bisa dimainkan oleh 2-6 pemain, baik laki-laki maupun perempuan. Dan kami berkesempatan untuk mengujikan permainan tersebut pada siswa kelas 1 SD Mafaza Integrated Smart School pada hari Rabu, 13 Oktober 2021. Permainan dipimpin oleh Ms. Fenty Windyanurkarina, S.Pd. selaku guru kelas 1, dibantu oleh Mr. Rois, S.A.P. sebagai pengambil gambar dokumentasi. *****


Namun memasuki akhir 2018, negara tersebut mengalami kebangkrutan parah. Mereka mengalami
inflasi hingga 1.300.000 %. Bayangkan, harga barang-barang kebutuhan naik 13 ribu kali lipat. Sebagai
perbandingan, kita pernah mengalami hiperinflasi pada tahun 1965, itu saja hanya 658%. Dan itu sudah cukup
menimbulkan chaos yang berdarah-darah dan berujung pada pergantian kepemimpinan.
Apa penyebab utama kebangkrutan Venezuela tersebut? Jika bisa dirangkum dalam 2 kata, maka itu
adalah: salah kelola. Dan salah kelola dalam suatu negara sebesar Venezuela, tak lain dan tak bukan pasti
melibatkan korupsi dalam berbagai varian di dalamnya. Salah satu bentuk salah kelola yang paling mencolok
adalah adanya ketidakjujuran Pemerintahan Hugo Chavez untuk mengambil hati rakyatnya.
Sebagaimana misalnya Presiden Chavez membiayai kemakmuran rakyatnya dari penjualan minyak
secara berlebihan dan dari hutang Luar Negeri. Pada masanya, rakyat Venezuela menikmati akses pendidikan,
kesehatan dan berbagai fasilitas lain secara gratis. Mereka juga menikmati harga kebutuhan pokok yang
murah meriah. Tentu saja melalui mekanisme subsidi. Dengan begitu tentu rakyat Venezuela menikmati
tingkat kemakmuran yang luar biasa. Dan mereka merasa baik-baik saja dengan kurun kekuasaan Presiden
Chavez yang relatif lama. Padahal semua itu menyimpan bom waktu, hanya menunggu saat untuk meledak.
Ketika tiba jatuh temponya untuk membayar hutang Luar Negeri tersebut, yang ndilalah berbarengan
dengan terjunnya harga minyak dunia, hanya ada satu kata untuk Venezuela: bangkrut. Bom waktu yang lama
ditanam telah meledak.
*****
Kita bisa saja bersikap masa bodoh terhadap apa yang terjadi di Venezuela. Namun jika mau sedikit
berpikir, kita bisa mengambil pelajaran agar yang terjadi di sana tidak sampai menimpa kita. Bukankah
pengalaman (Negara lain) adalah guru terbaik? Salah satunya adalah dengan mengikis habis tindak korupsi
dengan segala variannya.
Kabar buruknya, memberantas korupsi bukanlah pekerjaan mudah yang bisa rampung dalam semalam.
Andai bisa seperti itu, KPK istirahat saja. Serahkan pekerjaan kepada Bandung Bondowoso yang mampu
membangun seribu candi hanya dengan semedi. Atau bisa jadi kepada Sangkuriang putra Dayang Sumbi.
Memberantas korupsi ini proses panjang yang bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan mungkin
hingga alih generasi. Mengikis korupsi ada kaitannya dengan mengubah pola pikir, sikap dan perilaku. Dan
untuk mengubah pola pikir, sikap dan perilaku tersebut, adakah yang lebih manjur dari pendidikan?
*****
Berangkat dari hipotesa tersebut maka jalan terbaik untuk menanamkan sikap dan perilaku anti
korupsi adalah melalui pendidikan, dan pendidikan paling ampuh harus dilakukan sejak usia dini. Menurut
hasil penelitian Osbora, White dan Bloom, “perkembangan intelektual manusia pada usia 4 tahun sudah
mencapai 50%, usia 8 tahun 80%, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100%.”
Artinya, usia dini 0-8 tahun merupakan masa emas bagi pendidikan anak. Norma dan nilai-nilai apapun
yang diajarkan pada periode emas tersebut akan lebih bisa diterima. Dengan begitu akan lebih besar
kemungkinannya untuk bisa membentuk karakter anak hingga usia dewasa. Dengan dasar berpikir tersebut
maka pendidikan anti korupsi akan lebih mengena jika diajarkan pada anak sejak usia dini.
*****
Dalam upaya memberikan pendidikan anti korupsi kepada anak usia dini tersebut, kami tim SD Mafaza
Integrated Smart School merancang sebuah media permainan yang kami beri nama JUMANSI, singkatan dari
Juara Permainan Anti Korupsi. Permainan ini kami rancang untuk siswa SD kelas 1 hingga kelas 6.
Pada dasarnya permainan ini mirip permainan monopoli, boleh juga disebut mirip game Jumanji
karena sama-sama menggunakan dadu. Bisa dimainkan oleh 2-6 pemain, baik laki-laki maupun perempuan.
Dan kami berkesempatan untuk mengujikan permainan tersebut pada siswa kelas 1 SD Mafaza Integrated
Smart School pada hari Rabu, 13 Oktober 2021. Permainan dipimpin oleh Ms. Fenty Windyanurkarina, S.Pd.
selaku guru kelas 1, dibantu oleh Mr. Rois, S.A.P. sebagai pengambil gambar dokumentasi.
*****

Permainan diawali oleh Ms. Fenty dengan memberikan pemahaman bahwa korupsi adalah sebuah sikap yang curang, nakal, jahat, malas dan sombong. Maka untuk menghindari sikap tidak baik tersebut para siswa harus membiasakan diri untuk bersikap disiplin, tanggung

jawab, jujur, berani mengungkapkan kebenaran dan mengoreksi orang yang curang, serta sederhana. Para pemain harus berkomitmen untuk memegang teguh keempat sikap yang baik tersebut selama memainkan Jumansi. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tata cara dan peraturan permainan.

Para siswa terlihat serius memperhatikan penjelasan tersebut. Tiba waktunya untuk memulai permainan. Para siswa menentukan giliran bermain dengan melakukan hompimpah dan sut gunting batu kertas. Ternyata Maya yang kebagian giliran pertama untuk bermain. Dia mendapat angka 1 dari lemparan dadu pertamanya. Maka Maya mendapatkan pertanyaan Bahasa Indonesia: huruf vokal apa saja yang ada dalam kata “hidung”? Maya kesulitan menjawab pertanyaan tersebut sehingga dia harus rela tidak mendapatkan Rp.100 dari Ms. Fenty.

Queensha mendapat giliran kedua untuk melempar dadu. Dia mendapat angaka 5 dengan pertanyaan seputar SBdP dengan perintah menyanyikan lagu balonku ada lima. Queensha mampu menyanyikan dengan lancar sehingga dia mendapatkan uang Rp.100.

Giliran ketiga adalah Anindya. Dia mendapat angka 2 dari lemparan dadunya. Artinya dia berhak mendapatkan hadiah berupa uang Rp.100 dari masing-masing peserta lain. Peserta yang lain memberikan uangnya kepada Anindya dengan jujur dan legawa.

Permainan berlanjut selama 3 putaran. Dalam 3 putaran tersebut ada yang harus membayar pajak, ada yang gagal menjawab pertanyaan, ada juga yang sempat mengalami masuk penjara. Semua dilakukan para peserta dengan antusias dan jujur. Pada akhir permainan ternyata Anindya mendapatkan uang sebesar Rp.700, Queensha Rp.500, dan Maya Rp.400. Artinya, pemenang permainan kali ini adalah Anindya.

Para siswa kelas 1 merasa senang sekali melakukan permainan Jumansi tersebut. Mereka bahkan meminta kepada Ms. Fenty untuk bermain lagi keesokan harinya. *****

Jika dimainkan secara rutin, kami percaya permainan Jumansi ini bisa membantu menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, jujur, sederhana dan berani mengungkapkan kebenaran pada anak-anak. Kelima sikap tersebut otomatis akan membentuk antibody terhadap tindak korupsi pada diri anak-anak. Dengan begitu kita tidak akan pernah menjumpai pertanyaan sesat pikir semacam: “Jika para koruptor masih bisa hidup mewah bergelimang harta selama maupun sekeluarnya mereka dari penjara, lalu kenapa saya harus berkata tidak pada korupsi?” Dan dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa, Indonesia tidak akan pernahmengalami salah kelola.