Ragam Upacara Tolak Bala di Indonesia

Indonesia adalah negara yang majemuk. Negara yang kaya dengan tradisi, budaya, dan sumber alam yang melimpah.

Salah satu kekayaan Indonesia yang bisa dikatakan unik adalah upacara tolak bala.

Upacara tolak bala ini bertujuan untuk mengusir atau menghilangkan wabah penyakit maupun bencana yang dampaknya bisa merugikan atau menyengsarakan masyarakat Indonesia.

Kata “bala” sendiri menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti malapetaka; kemalangan; cobaan. Dengan demikian, “tolak bala” dapat diartikan sebagai kegiatan untuk menolak atau mengusir penyebab terjadinya malapetaka agar semua manusia selamat.

Ada dua macam sifat yang mendasari dilakukannya upacara tolak bala di Indonesia, yaitu bersifat pribadi yang bertujuan untuk kepentingan keselamatan diri sendiri, dan bersifat komunal yang bertujuan untuk kepentingan keselamatan orang banyak atau suatu kelompok tertentu.

Adapun upacara tolak bala yang bersifat pribadi contohnya nyengkalani, nylameti weton, membuat dhiang, ruwat dhiri, tembang tolak bala (menyanyikan lagu tradisional untuk mengusir malapetaka), dan lain-lain.

Sementara upacara tolak bala yang bersifat komunal contohnya ruwatan massal, kenduren, sedekah bumi, sedekah laut, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah contoh tembang tolak bala atau kidung tolak bala.

              Singgah-singgah kala singgah

              Pan suminggah durga kala sumingkir

              Sing asirah sing asuku

              Sing datan kasat mata

              Sing atenggak sing awulu sing abahu

              Kabeh padha sumingkira

              Ing telenging jalanidhi

Arti dari tembang tolak bala di atas adalah:

              Pergilah kala, pergilah

              Pergilah segala macam kala, menyingkirlah

              Yang tak berkepala juga tak berkaki

              Yang tak tampak oleh mata

              Yang tak berleher tak berbulu tak berpundak

              Semua menyingkirlah

              Menyingkirlah ke dasar samudera

Untuk ragam upacara tolak bala yang dilakukan oleh suku-suku di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Kendurai yang bisa juga disebut Kenduri atau masyarakat Jawa lebih mengenalnya dengan Kenduren.
  2. Mantu Kucing
    Upacara tolak bala yang satu ini tergolong unik, karena menikahkan dua ekor kucing yang dipercaya bisa menjauhkan dan melindungi masyarakat dari bahaya atau bencana.
  3. Upacara tolak bala selanjutnya adalah Rebo Wekasan, disebut juga dengan Rebo Pungkasan, atau bisa juga disebut sebagai Rebo Kasan.
    Rebo Wekasan; Rebo Pungkasan; Rebo Kasan adalah Bahasa Jawa, dan dalam Bahasa Indonesia artinya adalah Rabu Terakhir.
    Dalam Rebo Wekasan itu dilakukan doa bersama untuk menghalau malapetaka itu datang.
  4. Ruwat Bumi
    Upacara tolak bala Ruwat Bumi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat pedalaman di Pulau Jawa.
  5. Sedekah Laut
    Upacara tolak bala Sedekah Laut ini biasa dilakukan oleh masyarakat pesisir.
  6. Mekotek
    Mekotek adalah upacara tolak bala yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Bali di daerah Mengwi Kabupaten Badung.
  7. Siraman
    Siraman adalah upacara tolak bala untuk menghalau bencana yang dilakukan di daerah Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur.
  8. Suran
    Ragam upacara tolak bala yang terakhir adalah Suran. Suran ini dilakukan dengan membawa beberapa ekor kerbau sebagai sarana upacara.

Demikianlah informasi tentang ragam upacara tolak bala yang umumnya dilakukan oleh suku-suku di Indonesia untuk menghalau bencana maupun malapetaka agar masyarakat selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *